Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Inovasi Siswa SMA Negeri 4 Tebing Tinggi, Ubah Limbah Kulit Jeruk Nipis Jadi Sabun Kertas Antibakteri

Skintific

Tebing Tinggi Cerita – Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 4 Kota Tebing Tinggi mencatat prestasi membanggakan dengan keberhasilan mereka mengolah limbah kulit jeruk nipis menjadi minyak atsiri, yang selanjutnya diformulasikan menjadi sabun kertas antibakteri. Inovasi ini tidak hanya menjawab isu lingkungan, tetapi juga membuka peluang wirausaha bagi para pelajar.

Skintific

Program kreatif ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) yang melibatkan tim dosen lintas fakultas, antara lain Dr. dr. Lokot Donna Lubis, M.Ked(PA), Sp.PA dari Fakultas Kedokteran serta para dosen Fakultas Farmasi: apt. Muhammad Fauzan Lubis, S.Farm, M.Farm; apt. Ade Sri Rohani, S.Farm, M.Farm; dan apt. Nur Aira Juwita, S.Farm, M.Si. Kegiatan berlangsung dalam beberapa tahap, diawali dengan penyuluhan sex education untuk meningkatkan pemahaman kesehatan remaja, kemudian dilanjutkan dengan workshop pembuatan sabun kertas berbasis minyak atsiri.

Baca Juga : Bhabinkamtibmas Polsek Tebing Tinggi Sambangi Pos Kamling di Desa Pertapaan

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Community Based Interactive Approach (CBIA). Pendekatan ini terbagi dalam tiga tahapan: persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Pada tahap awal, siswa KIR diberikan wawasan mengenai potensi kulit jeruk nipis sebagai sumber minyak atsiri dengan sifat antibakteri alami dan aroma segar khas jeruk. Edukasi ini menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus memicu kreativitas dalam mengolah limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Tahap berikutnya, siswa mempraktikkan langsung proses pemurnian minyak atsiri di laboratorium sekolah. Dari hasil ekstraksi inilah mereka berhasil membuat sabun kertas antibakteri—produk higienis yang modern, ringan, mudah dibawa, serta jarang ditemukan di pasaran khususnya di kalangan pelajar. “Sabun kertas ini membuktikan bahwa sains tidak hanya sebatas teori, tetapi juga bisa menjadi solusi praktis yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar salah satu anggota tim dosen USU.

Sabun kertas hasil karya siswa kemudian melalui serangkaian uji ilmiah untuk memastikan kualitas dan keamanannya. Uji organoleptik menunjukkan sabun bertekstur mudah larut, berukuran 2,5×2,5 cm, berwarna putih gading, dengan aroma jeruk nipis yang menyegarkan. Uji pH berada pada rentang 5,5–6,5, sehingga aman untuk kulit. Uji hedonik dari 10 responden memperlihatkan tingkat penerimaan sangat baik, mayoritas menyukai tekstur dan aroma. Uji iritasi memastikan sabun aman digunakan karena tidak menimbulkan gatal maupun kemerahan. Sementara itu, uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram menunjukkan zona hambat sebesar 6,88 mm terhadap Escherichia coli dan 9,75 mm terhadap Staphylococcus aureus. Hasil ini membuktikan sabun kertas bukan hanya produk kosmetik, tetapi juga memiliki fungsi sebagai agen antibakteri alami.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk, program ini berdampak langsung terhadap peningkatan keterampilan siswa. Evaluasi pembelajaran memperlihatkan adanya peningkatan signifikan nilai rata-rata dari pre-test ke post-test. Siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai praktik nyata dalam mengolah bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi. Hal ini menjadi indikator keberhasilan kegiatan dalam membekali generasi muda dengan keterampilan kewirausahaan berbasis sains. “Pengalaman ini sangat berharga, karena kami belajar bahwa sesuatu yang tampak sepele seperti kulit jeruk bisa diubah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual,” ungkap salah satu siswa peserta workshop.

Selain menumbuhkan jiwa wirausaha, kegiatan ini juga memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Pemanfaatan limbah sederhana seperti kulit jeruk nipis mengajarkan bahwa inovasi bisa lahir dari sekitar kita dengan pendekatan kreatif dan berbasis ilmu pengetahuan.

Ke depan, produk sabun kertas ini memiliki potensi dikembangkan lebih luas, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun sebagai peluang usaha pelajar. Pihak sekolah bahkan mempertimbangkan menjadikan inovasi ini sebagai program unggulan ekstrakurikuler KIR agar semakin banyak siswa terlibat dan berkontribusi. Program pengabdian masyarakat yang digagas USU ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah mampu melahirkan ide-ide inovatif yang berdaya guna.

“Harapan kami, kegiatan semacam ini terus berlanjut sehingga siswa terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan berjiwa wirausaha. Inilah bekal penting untuk menghadapi tantangan masa depan,” tutup Dr. dr. Lokot Donna Lubis.

Dengan demikian, inovasi sabun kertas antibakteri dari kulit jeruk nipis ini bukan hanya sekadar eksperimen sekolah, melainkan juga simbol bagaimana generasi muda Tebing Tinggi dapat menghadirkan solusi nyata untuk kesehatan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat.

Skintific