Dari Pena ASN dan Warga, Tebing Tinggi Ukir Sejarah dan Jaga Peradaban Lokal
Tebingtinggi Cerita– Di ruang yang sarat dengan aroma kertas dan khazanah pengetahuan, sebuah gerakan kultural digaungkan. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tebing Tinggi, Muhammad Syah Irwan, tidak sekadar membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan. Ia melontarkan sebuah tantangan sekaligus harapan besar: membangun tradisi menulis sebagai benteng pertahanan budaya di era globalisasi.
Acara yang berlangsung di Lantai 1 Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Rabu (8/10/2025), itu bukan sekadar ritual seremonial. Ia menjadi titik tolak sebuah kesadaran kolektif. Di hadapan para peserta yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat, Syah Irwan menyampaikan pidato yang menyentuh akar paling dalam identitas sebuah bangsa.
Menulis: Jembatan Antara Masa Lalu dan Masa Depan
Dalam sambutannya yang berapi-api, Syah Irwan menekankan bahwa menulis adalah lebih dari sekadar keterampilan. Ia adalah sebuah tindakan pelestarian. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar budayanya,” tegasnya. “Dan salah satu cara terbaik untuk menjaga dan melestarikan budaya adalah dengan menuliskannya.”
Baca Juga: Di tengah Semangat HUT TNI ke-80, Polres Tebing Tinggi Beri Kejutan Manis ke Subdenpom
Pernyataan ini menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Di tengah gempuran informasi digital yang serba instan, narasi-narasi lokal—seperti kisah nenek moyang, legenda, tradisi, adat istiadat, dan kearifan lokal Kota Tebing Tinggi—berada di ambang kepunahan. Cerita-cerita lisan yang dahulu hidup di kedai kopi dan ruang keluarga, perlahan-lahan tergerus oleh algoritma media sosial.
“Melalui tulisan,” lanjut Syah Irwan, “semua warisan tak benda itu dapat kita kristalisasikan. Kita beri bentuk yang abadi, sehingga dapat terus hidup dan dikenal oleh generasi muda. Sebuah legenda tentang asal-usul nama ‘Tebing Tinggi’, misalnya, jika tidak ditulis, bisa hilang selamanya hanya dalam satu atau dua generasi.”
Penulis sebagai Penjaga Peradaban
Syah Irwan kemudian mengangkat peran penulis pada level yang lebih mulia: sebagai penjaga peradaban. Ia mengajak hadirin melakukan kilas balik sejarah. “Bayangkan seandainya para penulis dan pencatat sejarah terdahulu memilih untuk diam. Mungkin kita tidak akan pernah mengenal dengan detail perjuangan para pahlawan kita, kebesaran kerajaan-kerajaan Nusantara, atau kearifan yang tertuang dalam naskah-naskah kuno,” ujarnya.
Dengan analogi ini, ia ingin menegaskan bahwa setiap tulisan yang lahir dari tangan ASN dan warga Tebing Tinggi hari ini, pada hakikatnya sedang menorehkan sejarah untuk generasi mendatang. Sebuah laporan progres pembangunan, jika ditulis dengan narasi yang baik, bukan hanya sekadar data statistik, melainkan menjadi catatan perjalanan sebuah kota. Sebuah cerpen yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di Pasar Tebing Tinggi adalah dokumentasi sosiologis yang tak ternilai.
“Oleh karena itu, peran penulis adalah peran penjaga peradaban,” tegasnya sekali lagi, memberikan penekanan dan makna yang dalam pada setiap kata.
Sinergi ASN dan Masyarakat: Membangun Ekosistem Menulis
Harapan besar Pj Sekda ini tidak dilontarkan ke vacuum. Bimtek kepenulisan ini adalah langkah strategis untuk menciptakan ekosistem menulis yang subur di Kota Tebing Tinggi. ASN, sebagai ujung tombak birokrasi, diharapkan tidak hanya mampu membuat surat dinas yang formal, tetapi juga mampu mendokumentasikan inovasi, best practices, dan pelajaran dari kerja mereka dalam bentuk artikel atau buku yang inspiratif.
Sementara itu, partisipasi masyarakat—para guru, pelajar, seniman, dan komunitas—adalah napas yang akan menghidupkan ekosistem tersebut. Dari merekalah akan lahir puisi tentang sungai di belakang rumah, novel berlatar sejarah kota, atau esai kritik membangun untuk kemajuan Tebing Tinggi.
“Mari kita bergandengan tangan, memperkuat sinergi, dan bersama-sama membangun tradisi menulis yang kuat,” ajak Syah Irwan di akhir sambutannya. Ajakan ini adalah sebuah undangan untuk kolaborasi. Pemerintah menyediakan wadah dan fasilitas, seperti perpustakaan dan bimtek, sementara masyarakat menyumbangkan ide, kreativitas, dan cerita mereka.












